Karakteristik, Habitat, dan Manfaat Leses (Ficus albipila)

Leses (Ficus albipila) yang secara lokal juga dikenal dengan nama Abun-Abun atau Pohon Ratu, menempati kedudukan yang sangat unik dalam keluarga besar Moraceae.
Di Australia, pohon ini dikenal dengan nama Abbey Tree atau Abbey Fig. Di negara-negara berbahasa Inggris dikenal dengan nama Figwood, Bee Fig, atau Poison Fig.
Berbeda dengan beringin pencekik (strangler figs), Ficus albipila tidak memulai hidupnya sebagai epifit. Ia adalah pohon mandiri yang tumbuh langsung dari tanah.
Kehadiran Ficus albipila di hutan tropis Asia Tenggara hingga Australia Utara sering kali menjadi penanda sebuah ekosistem hutan primer yang masih terjaga dengan baik.
Secara morfologi, pohon ini adalah raksasa sejati yang mampu mencapai ketinggian hingga enam puluh meter, menjadikannya salah satu spesies Ficus tertinggi di dunia.
Batangnya berbentuk silindris sempurna dengan permukaan kulit kayu yang halus dan berwarna abu-abu keputihan, sebuah ciri khas yang memberikan dasar bagi nama spesifiknya “albipila” yang bermakna “bulu putih”.
Pada bagian dasarnya, pohon Ficus albipila dewasa akan mengembangkan sistem banir atau akar papan yang luas dan kokoh. Struktur banir ini berfungsi sebagai penopang mekanis yang krusial agar pohon tetap berdiri tegak di atas tanah hutan yang sering kali lembap dan gembur, sekaligus menahan beban tajuknya yang masif saat diterpa angin kencang di ketinggian emergen.
Penyerbukan pada spesies ini mengikuti mekanisme biologi yang sangat spesifik dan eksklusif, di mana mereka bergantung sepenuhnya pada simbiosis mutualisme dengan tawon ara. Tanpa kehadiran tawon yang sangat spesifik untuk spesies ini, Ficus albipila tidak akan mampu menghasilkan biji yang fertil.
Di Indonesia, Ficus albipila dapat ditemukan di hutan dataran rendah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, meskipun populasinya cenderung soliter dan tidak membentuk tegakan yang rapat.
Keberadaannya sangat vital bagi fauna lokal, buahnya yang berukuran kecil dan tumbuh berkelompok menjadi sumber energi penting bagi berbagai jenis burung frugivora dan primata. Karena tinggi pohon ini melampaui rata-rata kanopi hutan lainnya, ia juga sering menjadi tempat favorit bagi burung pemangsa besar untuk membangun sarang atau memantau mangsa dari ketinggian yang strategis.
Meskipun secara ekonomi kayunya tidak dianggap memiliki nilai komersial tinggi seperti kelompok Dipterocarpaceae karena sifatnya yang ringan dan kurang awet, secara ekologis Ficus albipila tidak tergantikan.
Pohon ini berfungsi sebagai penyerap karbon yang sangat efisien dan penjaga kelembapan mikro di sekitarnya.
Tantangan utama bagi kelestarian spesies ini adalah konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur dan pembalakan liar, yang secara bertahap menggerus habitat asli tempat sang Ratu Kanopi ini bernaung.
Memahami biologi dan ekologi Ficus albipila bukan sekadar mempelajari sebuah pohon, melainkan memahami bagaimana kerumitan hubungan antarspesies membentuk fondasi kehidupan di dalam hutan tropis yang kita miliki.
Daun Leses

Dilihat dari struktur daunnya, Ficus albipila memiliki dedaunan yang tersusun rapat pada ranting-ranting di puncak pohon.
Daunnya berbentuk elips dengan ujung yang meruncing, memiliki tekstur yang agak kaku namun fleksibel. Keunikan visual lainnya terletak pada lapisan bulu-bulu halus yang menutupi bagian bawah daun dan pucuk muda, memberikan semburat warna pucat yang kontras dengan warna hijau pekat di bagian atasnya.
Buah Leses

Buahnya berukuran kecil (sekitar 1-1,5 cm), berwarna kekuningan atau kemerahan saat matang, dan tumbuh berkelompok di ranting-ranting kecil.
Pohon Leses (Ficus albipila)

Pohon leses atau Ficus albipila dapat mencapai ketinggian 40 hingga 60 meter, menjadikannya pohon emergen (tumbuh melampaui kanopi utama). Batangnya yang lurus, silindris, dan biasanya bebas cabang hingga ketinggian yang cukup besar. Kulit batangnya berwarna abu-abu pucat hingga keputihan. Di bagian pangkal, pohon dewasa mengembangkan akar papan (banir) yang besar dan lebar untuk menopang beban tubuhnya yang masif.
Habitat Leses
Ficus albipila memiliki rentang distribusi yang luas namun sering kali ditemukan dalam populasi yang tersebar.
Ditemukan mulai dari Thailand, Malaysia, Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara), hingga ke Papua Nugini dan Australia Utara (Queensland).
Pohon ini lebih menyukai hutan hujan dataran rendah hingga ketinggian 800 mdpl. Di Australia, pohon ini sering ditemukan di kantong-kantong hutan hujan yang memiliki kelembapan tinggi sepanjang tahun.
Manfaat Leses
Meskipun tidak sepopuler kayu jati atau meranti dalam industri perkayuan karena kualitas kayunya yang cenderung lunak dan kurang awet, Ficus albipila tetap memiliki nilai penting.
- Ekologis
Sangat penting untuk restorasi hutan dan menjaga keanekaragaman hayati. - Tradisional
Di beberapa daerah, bagian kulit kayu atau getahnya digunakan dalam pengobatan tradisional, meskipun hal ini memerlukan penelitian medis lebih lanjut. - Konservasi
Secara umum, spesies ini belum masuk dalam kategori terancam punah secara global (IUCN). Namun, hilangnya habitat hutan hujan akibat deforestasi menjadi ancaman utama bagi keberadaan pohon raksasa ini di masa depan.
Perbanyakan Leses (Ficus albipila)
Membudidayakan pohon Ficus albipila membutuhkan kesabaran karena ia termasuk pohon yang tumbuh besar (bisa mencapai 40 hingga 60 meter), jadi pastikan Anda punya lahan yang cukup luas!
Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk budidayanya:
1. Metode Perbanyakan
Ficus albipila umumnya diperbanyak melalui dua cara utama:
- Biji
Ini adalah cara paling alami. Biji diambil dari buah yang sudah matang (biasanya berwarna kekuningan atau jingga). - Stek Batang / Cangkok
Meskipun lebih menantang dibandingkan jenis Ficus lain (seperti Beringin), metode ini bisa dilakukan dengan bantuan hormon perangsang akar (auksin).
2. Persiapan Media Tanam
Pohon ini menyukai tanah yang subur dan memiliki drainase yang baik.
- Campuran Tanah
Gunakan campuran tanah topsoil, kompos, dan sedikit pasir (rasio 2:1:1). - pH Tanah
Cenderung netral hingga sedikit asam.
3. Langkah Penyemaian (Jika dari Biji)
- Ekstraksi
Hancurkan buah matang di dalam air untuk memisahkan biji dari daging buahnya. - Penyemaian
Taburkan biji di atas permukaan media tanam (jangan dikubur terlalu dalam karena biji Ficus butuh cahaya untuk berkecambah). - Kelembapan
Tutup pot semai dengan plastik transparan untuk menjaga kelembapan tinggi. - Waktu
Kecambah biasanya muncul dalam 2-4 minggu.
4. Perawatan Bibit dan Penanaman
- Penyiraman
Jaga agar media tetap lembap tetapi tidak becek. Ficus albipila muda cukup sensitif terhadap kekeringan. - Cahaya
Saat masih bibit, letakkan di tempat yang terkena cahaya matahari tidak langsung (naungan 50%). Setelah cukup kuat (tinggi >50 cm), ia bisa dipindahkan ke area terbuka dengan matahari penuh. - Pemindahan
Karena sistem perakarannya sangat kuat dan luas, jangan menanam pohon ini dekat dengan pondasi bangunan atau pipa air. Beri jarak minimal 10–15 meter dari struktur bangunan.
5. Pemeliharaan Lanjutan
- Pemupukan
Berikan pupuk NPK secara berkala setiap 4-6 bulan sekali untuk merangsang pertumbuhan vegetatif. - Pemangkasan
Lakukan pemangkasan pada dahan bagian bawah jika Anda ingin membentuk batang tunggal yang lurus dan tinggi.

Tinggalkan Balasan